Profil Adik Asuh ; Perjuangan Berbuah Manis, Adik Asuh UPZ UNS diterima di Prodi Arsitektur UPN Veteran Jatim

Muda, berprestasi, dan berjiwa pemimpin. Itulah gambaran singkat mengenai Alif Adam Ramadhan (17), seorang siswa dari SMA Al Islam 1 Surakarta yang juga merupakan penerima Beasiswa Adik Asuh UPZ UNS. Di balik kesehariannya yang tenang, remaja yang pernah mengemban amanah besar sebagai Ketua OSIS di sekolahnya ini baru saja membuktikan bahwa mimpi besar tidak harus dihadapi dengan ketegangan, melainkan dengan ketenangan dan cara pandang yang tepat. Adam berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan lolos seleksi SNBT pada Program Studi Arsitektur Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur.
Di balik capaian itu, ada proses panjang yang menuntut ketangguhan mental. Ketertarikannya pada dunia arsitektur dan desain tumbuh dari kegemarannya menggambar—sebuah ruang tempat ia bisa menyalurkan kreativitas sekaligus mengasah kembali jiwa kepemimpinan (leadership) yang telah ia pupuk sejak di bangku sekolah. Dari minat yang kuat pada rancang bangunan dan wilayah itulah, ia menemukan arah masa depannya dan mulai melangkah dengan penuh keyakinan.
Adam tidak memilih cara yang rumit untuk menaklukkan ketatnya ujian masuk perguruan tinggi. Ia hanya memilih untuk berdamai dengan proses ujian yang menakutkan. Baginya, kunci utama adalah tidak menganggap soal-soal sulit sebagai beban pikiran, melainkan “dibawa asyik” saja. Dari sudut pandang itulah, ia mengubah rasa “tidak bisa” menjadi rasa penasaran yang mendorongnya untuk terus memecahkan masalah.
Di atas meja belajarnya, Adam mengasah kemampuan dengan konsistensi. Ia memperbanyak latihan soal, bersahabat dengan berbagai Try Out, dan membedah bank soal UTBK secara mandiri. Melalui proses itu, ia sadar bahwa jenis soal mungkin akan selalu berubah, namun konsep dasarnya akan tetap sama. Kematangan itu pula yang membuatnya cerdas dalam mengelola waktu ujian—memilih mendahului yang mudah, mengejar efisiensi, dan memastikan tidak ada kesempatan yang terbuang sia-sia.
Namun, Adam juga paham bahwa berjuang dengan keras bukan berarti harus memaksa diri melampaui batas. Sebagai seorang yang terbiasa mengelola organisasi, ia sangat mengenali kapasitas tubuh dan pikirannya. Di sela-sela ikhtiar maksimalnya, ia selalu menyediakan ruang untuk beristirahat dan berserah diri. Baginya, setelah semua usaha terbaik dikerahkan, mengetuk pintu langit melalui doa dan tawakal kepada Allah SWT adalah sandaran terbaik agar langkahnya tetap kuat dan penuh keberkahan.
Kisah Adam adalah pengingat bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang bergerak tanpa lelah, melainkan mereka yang mampu mengelola pikiran dan tanggung jawab dengan bijak. Bahwa sebuah mimpi besar dapat diraih ketika kita mampu menikmati setiap kerumitan menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan. Dan dari kombinasi antara kerja keras, strategi yang cerdas, serta ketulusan doa itulah, sebuah cita-cita perlahan menjadi nyata.